dr. Hajrin Pajri Asra, M.Ked (Ped), Sp.A
Poliklinik Anak
Profil & Pengalaman Dokter
Menjadi seorang dokter spesialis anak laki-laki sering kali menghadirkan dinamika yang unik. Di satu sisi, stereotip masyarakat terkadang menganggap dokter perempuan lebih lekat dengan kelembutan keibuan. Namun, pendekatan yang tenang, tegas, dan penuh kesabaran justru menjadi kunci utama untuk meruntuhkan rasa takut seorang anak terhadap figur dokter dan ruang praktiknya. 1. Menghadapi Pasien Kecil yang Ketakutan Suatu sore, ruang praktik saya kedatangan seorang pasien berusia 4 tahun. Ia datang dengan keluhan demam tinggi dan sesak napas ringan akibat bronkitis. Namun, tantangan
terbesarnya bukanlah penyakitnya, melainkan rasa takut yang amat sangat. Anak tersebut menangis histeris bahkan sebelum masuk ke dalam ruang periksa, bersembunyi di balik tubuh ibunya, dan menolak keras disentuh siapa pun yang mengenakan atribut medis. Sebagai dokter spesialis anak, langkah pertama saya bukanlah langsung mengambil stetoskop, melainkan menurunkan level komunikasi. Saya melepas jas putih, duduk bersila di lantai sudut ruangan dekat tumpukan mainan, dan mulai mengajak ibunya berbicara dengan santai seolah-olah pasien kecil tersebut sedang tidak diperhatikan. 2. Pendekatan Humanis di Luar Stetoskop Saya mulai memainkan mobil-mobilan mainan di lantai, menggeserkannya pelan-pelan ke arah anak tersebut. Anak-anak memiliki radar ketulusan yang sangat tajam; mereka tahu kapan seseorang benar-benar sabar dan ramah. Perlahan-lahan, rasa takutnya mulai mencair. Dari yang awalnya hanya melirik, ia mulai ikut mendorong balik mobil-mobilan tersebut. Di titik itu, pemeriksaan medis diubah menjadi sebuah "permainan". Stetoskop saya perkenalkan sebagai "alat pendengar robot" yang lucu, dan ia bahkan tertawa saat mendengarkan detak jantungnya sendiri. Pemeriksaan fisik yang tadinya dikhawatirkan akan berujung tangisan histeris, akhirnya berhasil diselesaikan dengan lancar dan senyuman. 3. Kepercayaan Orang Tua sebagai Buah Kesabaran Di akhir sesi, setelah memberikan resep dan edukasi perawatan di rumah kepada orang tuanya, sang ayah berkata kepada saya, "Dokter, kami tadinya sempat khawatir anak kami bakal trauma berat karena dia phobia dokter. Tapi cara dokter menghadapi kesabarannya tadi luar biasa. Terima kasih sudah tidak memaksa." Bagi saya, pengalaman semacam ini menegaskan esensi sejati dari profesi dokter spesialis anak. Ini bukan sekadar tentang menghafal dosis obat atau membaca hasil laboratorium, melainkan tentang memiliki seni komunikasi dan empati yang tinggi. Menjadi figur penenang di saat seorang anak merasa paling rentan dan kesakitan adalah kepuasan batin yang tidak ternilai harganya.
📅 Jadwal Praktik
IGD 24 Jam
Layanan gawat darurat siap siaga sepanjang waktu dengan tim medis terlatih.
Dokter Profesional
Terdiri dari Dokter Spesialis dan Dokter Umum berpengalaman.
Rawat Inap Nyaman
Fasilitas kamar rawat inap bersih, modern, dan mengutamakan pemulihan.
Instalasi Farmasi
Penyediaan obat lengkap, asli, serta pelayanan resep cepat dan akurat.